Batas yang Kupilih - Aku Menarik Diri, Bukan Menghilang

Ada batas yang, sekali dilanggar membuat kedekatan tidak lagi mungkin tanpa mengkhianati nilai yang kupegang

Fart of my life in 2025

Aku menyadari bahwa aku hanyalah manusia biasa yang pernah lalai bahkan kepada diriku sendiri. Di masa lalu dalam ketidaksadaranku, aku pernah melukai seseorang yang pernah berarti. Atas bagian itu, aku bertanggung jawab dan tidak menyangkalnya. Aku telah mengambil tanggung jawab emosional atas kesalahan tersebut dengan cara yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.

Aku sempat memiliki keinginan untuk memperbaiki dan menuntaskan dengan cara yang lebih dewasa, dan bijaksana, dengan cara yg benar. Namun keinginan itu berhenti ketika aku mengetahui bahwa ia memilih seseorang yang berada dalam lingkar keluargaku sendiri. Pada titik itu, aku menarik diri. Bukan karena takut, melainkan karena aku memilih menjaga batas, martabat, dan nilai yang tersisa padaku yg kupahami sebagai benar.

Aku sangat terluka, tetapi aku tidak menjadikan luka itu sebagai tontonan. Aku terlihat baik-baik saja, namun itu adalah hasil dari proses yang tidak ringan, aku telah babak belur, dibantai sampai kedasar dan jatuh bangun berkali kali dalam diamku. Ikhlas tidak berjalan lurus ada hari damai, ada hari yang masih terasa nyeri dan itu adalah tanggung jawabku sendiri untuk menyelesaikannya tanpa melibatkan orang lain.

Setiap orang berhak memilih kebahagiaannya, tetapi pilihan selalu membawa konsekuensi moral. Kejujuran, keterbukaan, dan tanggung jawab etis bukan hal tambahan; itu adalah bagian dari integritas. Ketika hal-hal itu diabaikan, luka tidak tercipta karena perpisahan, melainkan karena cara seseorang melangkah setelah perpisahan itu.

Aku sangat terluka, tpi aku memilih untuk tidak mengganggu, tidak mengusik, dan tidak merusak kehidupan siapa pun. Namun untuk menerima, mendekat, atau pun menjalin kembali hubungan secara manusiawi bukanlah sesuatu yang bisa kupaksakan pada diriku. Ada batas yang, sekali dilanggar, membuat kedekatan tidak lagi mungkin tanpa mengkhianati nilai yang kupegang..

Aku memutuskan untuk berpihak pada diriku sendiri. Apa yang terjadi akan menjadi bagian dari sejarah hidupku bukan untuk diungkit, tetapi untuk diingat sebagai alasan mengapa aku memilih tumbuh dengan kesadaran, bukan dengan penyangkalan. 

Komentar

  1. Sudah lah cukup, memang penyesalan kadang datang di akhir bukan di awal kawan.. Semoga tidak menemukan orang sebodoh laki-laki itu kawan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir, tinggalkan komentar jika ada yang ingin kamu bagi. Aku membaca semuanya...